Arsitektur bangunan
Arsitektur bangunan hunian
Arsitektur bangunan hunian Gampong Niron menjadi ciri khas dari Desa ini. Bangunan hunian berupa rumah panggung (Rumoh Aceh)
dengan ketinggian dua meter yang menjadi rumah tradisional masyarakat
Aceh digunakan sebagai tempat tinggal. Saat ini masyarakat Aceh yang
menggunakan Rumoh Aceh hanya ada di beberapa titik, seperti sebagian
kecil di daerah Aceh Besar, Aceh Utara, Pidie dan Aceh Selatan.
Yang menjadi keunikan dari Gampong ini, rumah penduduk sekitar 50% dari total 200 bangunan masih mempertahankan konsep rumah panggung yang dikenal dengan Rumoh Aceh. Rumah tersebut umumnya dibangun pada periode tahun 1950-1980 an. Beberapa rumah sudah dimodifikasi namun tidak menghilangkan konsep Rumoh Aceh. Sedangkan rumah permanen lainnya umumnya dibangun setelah tahun 1980.
Yang menjadi keunikan dari Gampong ini, rumah penduduk sekitar 50% dari total 200 bangunan masih mempertahankan konsep rumah panggung yang dikenal dengan Rumoh Aceh. Rumah tersebut umumnya dibangun pada periode tahun 1950-1980 an. Beberapa rumah sudah dimodifikasi namun tidak menghilangkan konsep Rumoh Aceh. Sedangkan rumah permanen lainnya umumnya dibangun setelah tahun 1980.
Desain Rumoh Aceh ini menggunakan material kayu dan papan,
disangga sekitar 12 tiang utama atau lebih seukuran batang kelapa,
dindingnya merupakan pahatan kayu yang telah diukir sedemikian rupa,
atapnya mengunakan material daun rumbia dengan ketinggian sekitar 2-3
meter. Kontruksi utama dibagi tiga, dengan rincian pembagian ruang
memperlihatkan pembedaan zona bagi laki-laki dan perempuan, yaitu:
- Serambi Keue (serambi depan) berfungsi sebagai tempat menerima tamu, tempat mengaji dan tempat tidur anak laki-laki serta kepentingan umum lainnya.
- Serambi Teungoh (serambi tengah) atau Tungai bersifat tertutup untuk laki-laki yang bukan muhrim, dibagi menjadi Rumoh Inong, yang berfungsi sebagai kamar tidur kepala keluarga di sebelah Barat dan Rumoh Andjoeng sebagai kamar tidur anak perempuan di sebelah Timur.
- Serambi likot (serambi belakang) atau Ulee Keude berfungsi sebagai dapur dan ruang makan keluarga.
Konsep perancangan Rumoh Aceh
sejak dahulu sangat multifungsi untuk menjaga kondisi hunian dengan
prinsip tahan gempa dan terhindar dari banjir. Selain itu pagar-pagar
pembatas antara satu rumah dengan rumah yang lain juga masih sangat
alami. Memanfaatkan tanaman bonsai jenis teh untuk dijadikan pagar dan
pekarangan ditanami dengan jenis tumbuh-tumbuhan produktif yang
menghasilkan buah-buahan dan sayuran untuk kebutuhan dapur. Suasana asri
dan hijau langsung terlihat karena masih banyak pohon-pohon besar,
membuat desa ini terasa sejuk dan udaranya bersih. Ruas jalannya juga
bersih dari sampah atau kotoran hewan ternak.

Komentar
Posting Komentar