Wisata



Daya Tarik Wisata
Daya tarik wisata utama yang ditawarkan adalah budaya masyarakat lokal sebagai miniatur berbagai sisi kehidupan Aceh di perkampungan. Selain itu, wisata alam pedesaan dan arsitektural bangunan hunian menjadi daya tarik yang dikemas menjadi produk wisata.

Petani sedang melakukan panen padi
Wisata alam
Gampong Niron memiliki suasana pedesaan yang alami dengan hamparan persawahan yang luas. Setiap wisatawan dapat melihat atau mengikuti rutinitas masyarakat Gampong seperti menanam padi di sawah dengan cara tradisional, berkebun atau mengunjungi peternakan sapi. Pemeliharaan hewan ternak dilakukan dengan cara dibuatkan kandang khusus, jadi tidak ada hewan ternak yang berkeliaran bebas.


Wisata budaya
Wisata budaya yang ada di Gampong Niron dapat dilihat dari kehidupan masyarakat Gampong yang masih menjalankan adat dan tradisi yang dilakukan melalui ritual-ritual secara islami.
Beberapa atraksi budaya yang menjadi upacara adat Gampong yang dilaksanakan masyarakat dilatarbelakangi sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, yaitu:
  1. Upacara Kenduri; upacara Kenduri yang berkaitan dengan kepercayaan, berupa:
  • Kenduri Blang (turun ke sawah), merupakan upacara masyarakat petani di pedesaan. Upacara ini diselenggarakan secara massal di persawahan saat musim bersawah menjelang petani akan mulai menanam padi atau saat panen tiba.
  • Kenduri Tulak Bala. Upacara ini bertujuan untuk menghindari masyarakat dari musibah. Lokasi upacara dilaksanakan di babah Jurong (depan lorong) yang diyakini pada anggapan bahwa musibah datang melalui lorong Gampong saat masyarakat pulang dari aktivitasnya.
2.  Upacara Kenduri berkaitan dengan hari-hari perayaan agama Islam, yang dilaksanakan di Meunasah Gampong, yakni:
  • Kenduri Maulod; kenduri memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal.
  • Kenduri Isra’ Mi’raj; kenduri memperingati peristiwa Nabi Muhammad melakukan perjalanan menerima perintah Shalat, dilaksanakan pada bulan Rajab .
  • Kenduri Nisfu Sya’ban, dilaksanakan pada pertengahan bulan Sya’ban.
  • Kenduri Siploh Muharram (Sepuluh Muharram); kenduri memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW.
  • Kenduri Peutamat Daurih (Pengkhataman Al Qur’an).
  • Kenduri 27 Puasa; kenduri menyambut malam Nuzulul Qur’an pada 27 Ramadhan.
  • Kenduri Boh Kayee; kenduri buah-buahan dilaksanakan pada bulan Jumadil Akhir.


Foto Kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Niron


3. Upacara Kenduri yang berkaitan dengan lingkar kehidupan manusia, seperti:
  • Upacara kelahiran. Dimulai dari masa kehamilan berupa Kenduri Ba Bu (mengantar nasi), dilangsungkan setelah selesai upacara Tungkai atau masa kandungan memasuki tujuh sampai delapan bulan. Bentuk kenduri biasanya meuramien (makan bersama) dengan membawa ibu hamil rekreasi ke pantai. Pada saat kelahiran bayi, dilakukan upacara cukur rambut dan peucicap yang terkadang bersamaan dengan pemberian nama bayi. Menjelang sang anak dewasa, dilakukan upacara sebelum dewasa berupa mengantar ke pengajian dan upacara khitanan.
  • Upacara pernikahan. Upacara ini dimulai dengan tahapan perkenalan calon pengantin, meminang, pertunangan dengan membawa jiname (mahar/mas kawin), peresmian pernikahan dan resepsi perkawinan yang dikenal dengan intat lintoe (antar pengantin laki-laki) dan intat dara baroe (antar pengantin perempuan).
  • Kenduri kematian. Upacara ini mempunyai empat hal yang harus dilakukan masyarakat yakni memandikan jenazah, mengafani, menshalatkan dan menguburkan. Secara tradisi terdapat upacara penangisan jenazah sering disebut pemoe bae (menangis secara meratap) pada saat jenazah diletakkan hendak dibawa ke kubur. Kemudian pada hari ketiga, kelima, ketujuh, dan kesepuluh diadakan kenduri sambil dilakukan pembacaan doa. Selanjutnya kenduri kembali dilakukan pada ketiga puluh, keempat puluh, keseratus dan tahun kematian.
4. Upacara Peusijuk (tepung tawar) seperti:
  • Peusijuk Meulangga (pelanggaran) dilaksanakan apabila telah terjadi perselisihan antar penduduk.
  • Peusijuk Pade Bijeh (benih padi) dilakukan oleh petani pada benih padi yang akan ditanam agar subur dan berbuah banyak.
  • Peusijuk Tempat Tinggay (tempat tinggal) dilakukan pada saat menempati rumah.
  • Peusijuk Peudong Rumoh (mendirikan rumah) dilakukan pada saat pertama kali membangun rumah. Biasanya dilakukan peusijuk pada tiang raja dan tameh putroe, serta tukang yang mengerjakannya.
  • Peusijuk Keurubeuen (kurban) dilakukan pada saat kurban setelah hari Idul Adha pada bulan Dzulhijjah.
  • Peusijuk kendaraan dilakukan ketika baru memiliki atau membeli kendaraan baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Desa

Pembangunan Talud Jalan Dusun Kuta Bak Buloh Dari Dana Desa Tahap Pertama TA 2020